Sultan Muhammad Al-fatih punya keinginan yang amat kuat untuk menaklukkan Konstantinopel (Bizantium). Ia berkeyakinan bahwa keyakinan ini tidak sekedar mengokohkan dakwah kaum muslimin di benua Eropa, tapi juga sebagai pembuktian janji Rasulullah saw akan takluknya negeri Heraklius ditangan para muslimin. Misi itu bukan tugas mudah. Bizantium dikenal memiliki pertahanan terkuat di dunia. Bentengnya kokoh dan tidak bisa diserang dari lautan karena dihalangi dengan rantai besi yang juga kuat.
Tidak ada satupun kapal perang yang bisa mendekati benteng Bizantium. Untuk mencapai keinginannya itu siang malam bersama para jenderal muslim, sultan merancang serangan besar-besaran ke Bizantium. Mencari kelemahan benteng tersebut. Beliau juga memerintahkan para insinyur untuk membuat meriam ukuran besar sehingga bisa melontarkan bola besi yang lebih besar.
Total bola meriam yang dibuat konon mencapai 3 ton. Beliau sendiri merancang senjata berat yang khusu dipergunakan untuk menghancurkan benteng Bizantium. Pasukannya sendiri terdiri dari kurang lebih 150 ribu mujahidin. Hal yang paling spektakuler, yang dikerjakan oleh Sultan Al Fatih adalah saat ia memboyong 80 kapal perang khilafah untuk menggempur benteng musuh dari daratan, bukan lautan. Strategi ini beliau ambil setelah mengetahui bahwa Binzantium telah menutup teluk dengan rantai besi yang kokoh.
Sultan memerintahkan pasukannya untuk menarik armada kapal lautnya ke daratan menuju Bizantium. Disusunlah jalur khusus sepanjang 6 mil yang terdiri dari pohon-pohon besar yang dilumuri minyak pelumas. Sementara itu, ribuan pasukan mendorong dan menariknya. Maka 80 kapal perang itu pun “melaut” di daratan, melewati bukit dan pegunungan menuju teluk persis dibelakang benteng musuh.
Tidak hanya mempersiapkan kekuatan fisik, ia pun memerintahkan pasukannya untuk memperbanyak ibadah sunah, termasuk berpuasa dihari senin. Bahkan penyerangan terakhir ke benteng konstatinopel dilakukan setelah mereka berbuka puasa pada tanggal 19 jumadil ula 757 H (27 April 1453). Ketika benteng itu akhirnya jatuih ke tangan kaum muslimin, beliau menginjakkan kakiknya ketengah kota dan membacakan hadist Rasulullah saw;
“Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.”
Tidak ada cita-cita yang dapat diraih manusia tanpa kerja keras. sekecil apapun. Dan tak ada yang bisa menghalangi manusia bila diawali kemauan, diiringi kerja keras dan mengharapkan ridho Allah. Sultan Al Fatih telah membuktikannya.
sumber: Be positive be happy; Iwan Januar, dan Wikipedia.