The Worth Of My Life

November 1, 2008

Mau dan Mampu

Filed under: Uncategorized — Tag:, , — Tri @ 2:03 pm

Sultan Muhammad Al-fatih punya keinginan yang amat kuat untuk menaklukkan Konstantinopel (Bizantium). Ia berkeyakinan bahwa keyakinan ini tidak sekedar mengokohkan dakwah kaum muslimin di benua Eropa, tapi juga sebagai pembuktian janji Rasulullah saw akan takluknya negeri Heraklius ditangan para muslimin. Misi itu bukan tugas mudah. Bizantium dikenal memiliki pertahanan terkuat di dunia. Bentengnya kokoh dan tidak bisa diserang dari lautan karena dihalangi dengan rantai besi yang juga kuat.

Tidak ada satupun kapal perang yang bisa mendekati benteng Bizantium. Untuk mencapai keinginannya itu siang malam bersama para jenderal muslim, sultan merancang serangan besar-besaran ke Bizantium. Mencari kelemahan benteng tersebut. Beliau juga memerintahkan para insinyur untuk membuat meriam ukuran besar sehingga bisa melontarkan bola besi yang lebih besar.

Total bola meriam yang dibuat konon mencapai 3 ton. Beliau sendiri merancang senjata berat yang khusu dipergunakan untuk menghancurkan benteng Bizantium. Pasukannya sendiri terdiri dari kurang lebih 150 ribu mujahidin. Hal yang paling spektakuler, yang dikerjakan oleh Sultan Al Fatih adalah saat ia memboyong 80 kapal perang khilafah untuk menggempur benteng musuh dari daratan, bukan lautan. Strategi ini beliau ambil setelah mengetahui bahwa Binzantium telah menutup teluk dengan rantai besi yang kokoh.

Sultan memerintahkan pasukannya untuk menarik armada kapal lautnya ke daratan menuju Bizantium. Disusunlah jalur khusus sepanjang 6 mil yang terdiri dari pohon-pohon besar yang dilumuri minyak pelumas. Sementara itu, ribuan pasukan mendorong dan menariknya. Maka 80 kapal perang itu pun “melaut” di daratan, melewati bukit dan pegunungan menuju teluk persis dibelakang benteng musuh.

Tidak hanya mempersiapkan kekuatan fisik, ia pun memerintahkan pasukannya untuk memperbanyak ibadah sunah, termasuk berpuasa dihari senin. Bahkan penyerangan terakhir ke benteng konstatinopel dilakukan setelah mereka berbuka puasa pada tanggal 19 jumadil ula 757 H (27 April 1453). Ketika benteng itu akhirnya jatuih ke tangan kaum muslimin,  beliau menginjakkan kakiknya ketengah kota dan membacakan hadist Rasulullah saw;

“Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.”

Tidak ada cita-cita yang dapat diraih manusia tanpa kerja keras. sekecil apapun. Dan tak ada yang bisa menghalangi manusia bila diawali kemauan, diiringi kerja keras dan mengharapkan ridho Allah. Sultan Al Fatih telah membuktikannya.

sumber: Be positive be happy; Iwan Januar, dan Wikipedia.

Oktober 13, 2008

Kufur

Filed under: Uncategorized — Tag:, — Tri @ 9:28 pm

Setiap anak Adam potensial berbuat dosa, tetapi sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah orang yang selalu segera bertaubat. Demikianlah Rasulullah s.a.w. memberitahukan kepada kita sebagaimana diriwayatkan oleh al-Turmudzi (No: 2499). Kesalahan itu bisa berupa dua hal, yaitu meninggalkan kewajiban atau melakukan larangan. Mengukur dan menilai sebuah perbuatan –apalagi ibadah– tidak cukup hanya melihat yang tampak saja. Tetapi lebih jauh dari itu, yakni latar belakang suatu perbuatan, juga sangat menentukan, baik itu pengetahuan maupun niat yang menjadi dasarnya. Begitu pula meninggalkan salat fardhu, setidaknya ada tiga kemungkinan:

Pertama, meninggalkan karena udzur, lupa misalnya, maka dia tidak berdosa dan harus melakukan salat tatkala mengingatnya.

Kedua, karena sengaja didasari dengan pengingkaran akan kewajibannya. Untuk ini ulama sepakat, bahwa ia telah keluar dari Islam alias kafir.

Ketiga, meninggalkan salat dengan sengaja, tetapi disebabkan kemalasan tanpa mengingkari akan kewajibannya, maka dalam hal ini ulama sepakat pula bahwa itu merupakan dosa besar. Dan secara dzahir dari kebanyakan hadis yang terkait dengan itu menyatakan bahwa pelakunya termasuk kafir. Sebagaimana sabda Nabi: “Pembatas antara seseorang (muslim) dan kekufuran adalah meninggalkan salat (fardhu).” (H.R. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, al-Turmudzi dan Ibn Majah). Artinya bila seseorang telah memasuki batas berupa meninggalkan salat berarti telah kafir.

Hanya saja, ulama berbeda pendapat dalam memahami predikat kafir tersebut. Ada yang memahami menurut dzahirnya. Di antaranya adalah Umar Ibn al-Khattab, Ibn ‘Abbas, dan Ahmad Ibn Hanbal (Nail al-Authar : II,257). Sebagian lain memahami bahwa makna hadis itu adalah orang yang melanggar itu telah melakukan perbuatan, sebagaimana perbuatan orang kafir atau berhak mendapat hukuman seperti hukuman orang kafir, yaitu dibunuh. Atau pula dipahami bahwa predikat “kafir” itu hanya bagi orang yang menganggap halal meninggalkan salat. Sedangkan status orang tersebut tetap mukmin tetapi fasik (pelaku dosa besar), andaikan orang meninggal dalam kondisi demikian, maka ia mati su’ul khatimah, alias dijamin masuk neraka. Hal yang harus dilakukan dalam kondisi bersalah seperti ini, –sebagaimana petunjuk hadis yang pertama di atas- adalah bertaubat. Yaitu dengan cara, pertama, menyesali sedalam-dalamnya atas pelanggaran tersebut. Kedua, meminta ampun kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Ketiga, mengqada’ salat yang yang Anda tinggalkan. Keempat, harus bertekad bulat tidak mengulangi perbuatan tersebut (Riyad al-Shalihin :33).

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (al-Nisa’:48).

Ia bahkan melarang hambanya berputus asa dari ampunannya dengan berfirman: “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Zumar: 53).

Semoga Allah melimpahkan rahmatnya kepada kita semua, agar mudah istikamah dalam iman dan takwa. Amin.

PS: Postingan ini diposting saat saya merasa sedih saat akan melaksanakan sholat fardhu tapi tidak ada sarana yang memadai, untungnya saya membawa mukena, padahal semua yang berada ditempat ini beragama muslim. Faghfirli ya Rabb.. [Hidayatullah.com]

September 21, 2008

Tidak Semua Bisa Dihitung Dengan Matematika

Filed under: Uncategorized — Tag:, , — Tri @ 11:31 am

Waktu saya coba search cerpen di delapan kompi net, ada sebuah file notepad yang menarik hati dengan nama file Tuhan, karena menurut saya bagus untuk diposting sebab bermanfaat *ketawa ngikik*. Kurang lebih isinya seperti ini;

Dari pengamatan saya terhadap keseharian yang saya temui, saya dapat
menyimpulkan satu hal: Tuhan memang serba bisa, tapi Dia tidak pintar
matematika. Kesimpulan ini bukan tanpa dasar lho. Banyak bukti empiris yang
mendukung kesimpulan saya ini.

Sebagai seorang “fresh graduate”, saya tak mungkin mengharapkan
penghasilan tinggi dalam waktu sekejap. Terlebih karena saya memegang
prinsip bahwa hal yang terpenting dalam bekerja adalah kepuasan hati. Saya
lebih memilih pekerjaan yang mungkin tak segemerlap pekerjaan yang dipilih
teman-teman seangkatan saya, tapi mampu “memuaskan” idealisme saya.

Saya memang sangat mencintai dan menikmati pekerjaan saya saat ini. Tapi
saat saya berbincang dengan seorang teman yang bekerja di ibukota, ia
mulai membandingkan penghasilan kami (dari sisi finansial tentunya). Jelas
saja saya kalah telak darinya.

Saya sempat jengkel sebentar. Bagaimana tidak. Selama bermahasiswa,
sepertinya prestasi kami sejajar, bahkan saya lebih dahulu lulus ketimbang
dia. Tapi kenapa Tuhan tidak menitipkan rejeki yang sama besarnya dengan
yang dititipkan pada teman saya ini?

Tapi, begitu saya merenungkan kembali segala kebaikan Tuhan saya menemukan
satu hal yang luar biasa. Ternyata penghasilan saya yang tak seberapa itu
cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya, bahkan untuk mengirim adik
ke bangku kuliah. Padahal logikanya pengeluaran saya per bulannya bisa
sampai dua kali lipat penghasilan saya. Lalu darimana sisa uang yang saya
dapat untuk menutupi kesemuanya itu? Wah, ya dari berbagai sumber. Tapi
saya percaya tanpa campur tangan-Nya, itu semua tidak mungkin.

Nah, ini salah satu alasan mengapa Tuhan tidak pintar matematika. Lha wong
seharusnya neraca saya sudah njomplang kok masih bisa terus hidup.

Bukti kedua adalah kesaksian seorang teman. Ia mengaku kalau semenjak
lajang, penghasilannya tidak jauh berbeda dengan sekarang. Anehnya, pada
saat ia masih membujang, penghasilannya selalu pas. Maksudnya, pas akhir
bulan pas uangnya habis. Anehnya, begitu ia berkeluarga dan memiliki anak,
dengan penghasilan yang relatif sama, ia masih bisa menyisihkan uang untuk
menabung. Aneh bukan?

Berarti kalau bagi manusia 1 juta dibagi satu sama dengan 1 juta dan 1 juta
dibagi dua sama dengan 500 ribu, tidak demikian bagi Tuhan.

Dari kesaksian teman saya, satu juta dibagi 3 sama dengan satu juta dan
masih sisa. Betul kan bahwa Tuhan itu tidak pintar matematika?

Ah, saya cuma bercanda kok.

Buat saya, kalau dilihat dari logika manusia, Dia memang tidak pintar
matematika. Mungkin murid saya yang kelas 2 SD lebih pintar dari Dia. Tapi
satu hal yang harus digarisbawahi: MATEMATIKA TUHAN BEDA DENGAN MATEMATIKA
MANUSIA.

Saya tidak tahu dan mungkin tidak akan pernah sanggup mengetahui persamaan
apa yang digunakan Tuhan. Tapi kalau boleh saya menggambarkan, ya
kira-kira demikian:

X = Y di mana:
X = pemberian Tuhan
Y = kebutuhan

Ya, Tuhan selalu mencukupkan apapun kebutuhan kita. Tanpa kita minta pun,
Dia sudah “menghitung” kebutuhan kita dan menyediakan semua lewat
jalan-jalan- Nya yang terkadang begitu ajaib dan tak terduga.

Menyadari hal itu, saya bisa menanggapi cerita teman-teman yang “sukses”
dengan penghasilan tinggi di luar kota dengan senyum manis. Soal
penghasilan Tuhan yang mengatur. Untuk apa saya memusingkan diri dengan
berbagai kekhawatiran sementara Dia telah menghidangkan rejeki di hadapan
saya?

Yang perlu saya lakukan hanyalah melakukan bagian saya yang tak seberapa
ini sebaik mungkin, dan Ia yang akan mencukupkan segala kebutuhan saya.

yaph kurang lebih seperti itu dan menurut saya dia benar. *ngikik lagi* entah yang orang itu buat sendiri atau memang repost juga seperti saya, wallahu`alam bisshawab!

Tulisan yang Lebih Tua »

Tema: WordPress Classic. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.